James and the Giant Peach

Published April 10, 2015 by tikikabum

re_buku_picture_80242

James and the Giant Peach

Penulis: Roald Dahl

Illustrator: Quentin Blake

Penerjemah: Poppy D. Chusfani

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 979-22-2368-1

Tebal: 187 halaman

Harga: Lupa. Belinya udah lama banget dan selama ini nangkring manis di rak buku adik

 

Kedua bibi James, Spiker dan Sponge, selalu mengejeknya. Mereka berdua memukuliny, membiarkannya kelaparan, dan membuat hidupnya sengsara. Coba orangtuanya tidak tewas dimakan badak.

Tapi suatu hari ia bertemu pria misterius yang memberinya sekantong lidah buaya ajaib, dan mulailah petualangan ajaibnya…

James Henry Trotter awalnya hidup bahagia bersama kedua orangtuanya, tapi kehidupan manisnya itu berakhir ketika Ayah dan Ibunya ditelan badak yang mengamuk di jalan saat mereka berdua pergi ke London untuk berbelanja. Sejak saat itu, James tinggal bersama kedua bibinya dia rumah reyot yang aneh di puncak bukit. Bukit itu sangat tinggi dan hanya rumah mereka lah satu-satunya yang berada di sana, selain belukar dan satu pohon persik yang tidak pernah berbuah.

James sangat tersiksa, kelaparan, dan kesepian. Kedua bibinya memukulinya, tidak memberinya makan, dan tidak membiarkannya keluar dari halaman –yang merupakan keseluruhan puncak bukit-. Suatu hari, saat James sedah memotong kayu, seorang pria misterius tiba-tiba muncul dari semak-semak. Pria itu memberikan sebuah kantong untuk James. Kantong yang berisi lidah buaya.

Saat James memutuskan untuk melakukan apa yang disuruhkan pria misterius itu, yaitu menuang lidah buaya ke dalam kendi dan menambahkan sepuluh lembar rambutnya kemudian meminumnya, ia terjatuh dan benda hijau itu tersebar!

James merasakan bahwa sesuatu aneh akan terjadi setelah itu. Dan benar saja, tiba-tiba pohon persik itu berbuah! Buahnya tidak berhenti tumbuh sampai berukuran sebesar rumah. Malam harinya, James dipaksa kedua bibinya untuk membersihkan halaman. James menemukan lubang di buah persik itu, tanpa pikir panjang ia masuk dan menelusuri jalan dalam buah persik raksasa itu. Di dalamnya, ia menemukan Kakek Belalang, Lipan, Nona Laba-laba, Ulat Sutra, Cacing Cahaya, Cacing Tanah, dan Kepik yang semuanya berukuran menakjubkan. Semuanya sebesar James, dan semuanya bisa bicara! Awalnya James ketakutan melihat pemandangan aneh itu sebelum kemudian dia menyadari bahwa mereka semua tidak berbahaya. Esok harinya mereka semua memutuskan untuk memisahkan buah dari pohon untuk menggelinding menuruni bukit dan mencari tempat baru yang jauh lebih indah! Dan dari situlah petualangan James dan teman-teman barunya dimulai…

Ah, akhirnya kesampean jug abaca buku-bukunya Roald Dahl. Siapa sih yang nggak tau Roald Dahl? Saya juga sebenernya udah tau dari dulu. Cuma ya saya selalu menganggap buku-bukunya Roald Dahl itu buku yang hanya cocok dibaca anak-anak, saya yang udah remaja –yakin masih remaja?wkwkwk- pasti nggak bakal bisa menikmati. Tapi setelah baca-baca postingan kakak-kakak BBI faksi Children and Young Adult Literatures saya jadi tertarik banget. Dan mulai ngubek-ngubek buku Roald Dahl yang dulu saya belikan buat adek saya.

Dan hasilnya? Fabulous!!! Saya harus menarik kata-kata saya yang dulu. Saya benar-benar menikmati membaca buku ini. Agak nyesel juga kenapa dulu sok-sok an merasa terlalu tua untuk baca ini (padahal suka banget baca miiko). Yang paling menarik dari buku Roald Dahl ini menurut saya adalah imajinasinya yang nggak ketebak, kok bisa sih mikir tentang manusia awan yang kerja membuat salju dan menggantung pelangi. Dan satu lagi, saya suka banget sama humor-humor yang diselipkan Roald Dahl. Menurut saya sih humornya Roald Dahl ini sejenis sama Jonathan Stroud. Menurut saya loh ya, entah kalo menurut yang lain.

Terus saya suka sama pembagian karakter teman-teman James di sini. Belalang yang bijaksana, Kepik yang baik hati, Lipan yang angkuh, Ulat sutra yang pemalas, Cacing tanah yang pesimis, dan Cacing cahaya yang pendiam. Ada beberapa kalimat yang saya inget udah bikin saya ketawa. “Cacing Tanah yang malang. Dia senang sekali membuat segala hal menjadi malapetaka. Dia tak suka jika merasa senang. Dia hanya senang jika murung. Bukankah itu aneh? Tapi kupikir menjadi cacing tanah sudah cuku membuat seseorang menjadi murung?” dan pas Lipan nanya ke Cacing Tanah kenapa dia kelihatan risau, lalu Cacing Tanah menjawab: “Masalahnya adalah…yah, tidak ada masalah sama sekali”

Ada beberapa typo juga yang saya temuin, ‘genbiralah’ dan ‘jterowongan’ di halaman 84 dan ‘eolong’ di halaman 172. Tapi sama sekali nggak mengganggu kok. Karena tetap bisa dimengerti juga.

Saran saya buat mas mbak adek yang belum pernah baca Roald Dahl karena merasa udah ketuaan, coba baca deh. Pasti suka kok. Trust me, it works! *ala ala iklan di tivi

Rating:

4

Postingan ini dibuat dalam rangka meramaikan 13 Days Reading Children & Young Adult Literatures

banner-13-days-cl-ya

Advertisements

One comment on “James and the Giant Peach

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: