Koala Kumal

Published April 10, 2015 by tikikabum

m

Koala Kumal

Penulis: Raditya Dika

Penerbit: Gagas Media

ISBN: 979-780-769-X

Tebal Buku: 250

Harga: 59.000

Selain main perang-perangan, gue, Dodo, dan Bahri juga suka berjemur di atas mobil tua warna merah yang sering diparkir di pinggir sungai samping kompleks. Formasinya selalu sama: Bahri dan gue tiduran di atap mobil, sedangkan Dodo, seperti biasa, agak terbuang, di atas bagasi.

Kadang kami tiduran selama setengah jam. Kadang, kalau cuaca lagi sangt terik, bisa sampai dua jam. Kadang, kalau cuacanya lagi sejuk dan tidak terlalu terik, kami biasanya sama-sama menatap ke arah matahari , memandangi langit sambil tiduran. Kalau sudah begini, bahri menaruh kedua tangannya di belakang kepala, sambil tiduran dia berkata, ‘Rasanya kayak di Miami, ya?’

‘Iya’ Jawab gue.

‘Iya’ Jawab Dodo.

Kita bertiga nggak ada yang pernah ke Miami

Saya selalu beli buku-bukunya Raditya Dika. Dan buku ini tidak termasuk pengecualian. Saya juga selalu suka buku-bukunya, padahal saya nggak suka nonton dia Stand Up Comedy-an. Aneh ya? Hahaha.

Seperti biasa, cover bukunya memajang Raditya Dika sendiri sebagai model, sama seperti buku-buku sebelumnya. Nggak masalah sih, nggak mengganggu juga. Dan kebetulan cover warna hijau yang dipakai itu adalah favorit saya diantara 3 pilihan cover yang dikasi liat sama Bang Dika *dih, sok akrab* untuk dipilih cover mana yang paling bagus.

Buku ini berisi 12 cerita. Di antaranya berisi tentang tetangga teman mainnya waktu kecil dulu. Seingat saya, Bang Dika belum pernah menuliskan sesuatu tentang teman main masa kecilnya di buku-buku sebelumnya. Jadi pas baca di bab ‘Ada Jangwe di Kepalaku’ rasanya fresh gitu, karena tokoh-tokoh dan ceritanya benar-benar baru. Dan baca buku ini menjadikan saya tau bahwa di dunia ini ada sesuatu yang disebut ‘jangwe’. Iya, sebelum saya nggak pernah denger tentang jangwe. Taunya mercon, kembang api, sama kembang tetes, wkwk. Dalam bab ini diceritakan gimana layangan mempertemukan mereka bertiga yang akhirnya menjadi teman main yang kompak. Terus juga menceritakan tentang bahaya-nya main jangwe *ini penting banget!*. Dan saya ngerasa ikut sedih juga pas akhiran mereka jadi nggak deket lagi gara-gara masalah petasan.

Diantara 12 cerita dalam buku ini, ada dua bab yang paling saya suka, yaitu Perempuan Tanpa Nama dan Patah Hati Terhebat.

Kenapa saya suka Perempuan Tanpa Nama? Karena menurut saya ini ‘nyata’ banget dan kayaknya terjadi sama semua orang paling nggak sekali seumur hidup.

Banyak laki-laki dalam perjalanan hidupnya tidak sengaja bertemu dengan perempuan menarik, tapi nggak berani ngajak kenalan. Perempuan itu pun pergi berlalu, meninggalkan para lelaki itu berandai: apa yang terjadi seandainya gue ngomong sama dia?

Tentunya buat para cowok ya, kalo cewek sih jadinya Lelaki Tanpa Nama. Pernah nggak sih, kalian mengalami itu? Kalo saya sih pernah. Dulu ketemu seseorang di acara pawai tujuh belasan. Yah walaupun pada akhirnya saya tau namanya sih, tapi saya nggak pernah kenalan. Cuma kebetulan tau dari temen aja *duh, kok jadi curhat ya, hehehe*

Terus yang kedua, tentang Patah Hati Terhebat, saya jadi inget temen kos saya dulu. Sebut saja Dini. Dari segi fisik, Dini adalah cewek idaman cowok-cowok. Cantik, tinggi, putih, modis, dan anggun. Banyak cowok-cowok yang sering dateng ke kos untuk ketemu dia. Tapi kenyataannya nggak ada cowok yang bener-bener bisa deket sama dia. Nggak ada yang tau alasannya, sampe dia cerita, kalo dia belum sembuh dari patah hatinya. Patah hati terhebat saat pacarnya pergi untuk selamanya sepulang dari mengantar Dini pulang ke rumahnya di hari terakhir Ujian Nasional. Pacar yang seharusnya lulus bersama dan kuliah di tempat yang sama. Tapi ternyata mimpi mereka nggak bisa terwujud karena Tuhan berkehendak lain. Duh jadi sedih hiks. Din, kamu udah dapet pengganti dia belum?

Dan tentunya, yang nggak bisa dipisahkan dari Raditya Dika adalah humornya. Ada beberapa bab yang bikin saya ngakak parah, terutama yang menyangkut cerita tentang Mbak Neni, ART alias asisten rumah tangganya Bang Dika. Dari mulai Mbak Neni yang seneng diajak syuting Malam Minggu Miko tapi akhirnya batal karena dia demam panggung, sampe Mbak Neni yang PD banget pas ditanyain tentang peliharaan Bang Dika

“Kalau mau beli peliharaanmau hewan apa, Bang?

“Pengin pelihara anjin, sih” Jawab gue

“Jangan melihara anjing, Bang” Kata pembantu gue

“Kenapa, Mbak?”

“Nih, ya, Mbak kasih tau. Kalau kita melihara anjing, malaikat nggak bisa masuk ke rumah. Nanti Mbak nggak bisa masuk rumah, dong!” Kata si Mbak mesem-mesem

-halaman 85

Terus ada satu kalimat yang saya sukaaaa banget.!

Semua cowok punya temen cewek yang sedekat apapun mereka, tahu temen cewek itu gak bakalan jadi pacar.

-halaman 185

Kenapa saya suka? Yaaaa suka aja sih hahahaha

Fiuuuh~ Akhirnya, setelah menunda selama berminggu-minggu, review ini diposting juga… Padahal bacanya udah bulan maret lalu.

 

Rating:

4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: