Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Published April 12, 2015 by tikikabum

leafie

Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya

Penulis: Hwang Sun Mi

Penerjemah: Dwita Rizki Nientyas

Penerbit: Qanita

Tebal: 224 halaman

“Seandainya aku bisa mengerami telur sekali saja, seandainya aku bisa melihat kelahiran anak ayam…”

Leafie, seekor ayam petelur, mengidamkan menetaskan telur sendiri. Tetapi itu tak mungkin karena setiap hari telurnya diambil majikan untuk dikonsumsi. Setiap hari Leafie meghabiskan waktu memandangi keluarga ayam dan bebek di halaman yang bahagia berlarian ke sana ke mari.

Ketika dibuang ke lubang pembuangan ayam sekarat, Leafie hampir dimangsa Musang. Untung ia ditolong oleh Pengelana, bebek liar yang sayapnya luka dan tak bisa terbang. Pengelana mengajarinya bertahan hidup di padang rumput yang penuh bahaya. Lalu Leafie menemukan sebuah telur di rimbunan semak. Telur itu memicu semangat hidupny, memancing nalurinya sebagai Ibu. Leafie tak menyangka, saat dirinya memutuskan untuk mengerami telur itu, ia melangkah ke sebuah petualangan yang luar biasa. Petualangan yang mengajarkan makna cinta, kasih sayang, dan kepasrahan. Petualangan yang membuatnya melihat Musang sang pemburu dengan pandangan baru. Pandangan tanpa prasangka.

Leafie iri dengan dedaunan daun akasia. Satu-satunya hal yang bisa ia lihat dari balik jeruji kandangnya selain pemandangan keluarga halaman (sepasang ayam Korea, bebek-bebek, dan anjing penjaga). Awalnya, Leafie mengira pohon akasia hanya memiliki bunga. Namun, beberapa hari kemudian, bunga-bunga mulai berguguran meninggalkan dedaunan yang hijau sendirian. Dedaunan hijau terus bertahan hidup samapi akhir musim semi, sebelum akhirnya berubah menjadi kekuningan. Kemudian mereka juga berguguran dengan perlahan. Leafie mengagumi dedaunan yang terus bertahan di bawah hempasan angin kuat dan hujan lebat, sampai akhirnya harus gugur setelah berubah menjadi kekuningan. Lalu, ia juga merasa kagum ketika melihat daun hijau terlahir kembali. Menurut Leafie, nama “dedaunan” adalah nama terindah di dunia. Sehingga ia menamakan dirinya Leafie.

Setelah ia menghasilkan telur kecil tanpa cangkang keras, dibuang ke lubang pembuangan ayang sekarat, dan diselamatkan oleh Pengelana dari Musang yang lebih suka mengincar nyawa hidup daripada ayam sekarat yang sudah mati, ia mengikuti Pengelana kembali menuju halaman. Namun keluarga halaman tidak menyukai Leafie yang mereka anggap penyakitan. Dilihat dari penampilannya, Leafie juga burruk rupa. Bulu-bulu di lehernya nyaris habis karena kebiasaannya menjulurkan leher melewati jeruji kandang untuk melihat keadaan halaman dan pohon akasia. Setelah satu hari bermalam di halaman, Leafie terpaksa pergi mencari tempat tinggal yang lain. Pengelana yang selalu melintasi padang rumput bersama rombongan bebek, sering menemani Leafie. Namun setelah beberapa hari, Pengelana yang biasanya dikucilkan dari rombongan bebek, kelihatan memiliki teman. Seekor bebek cantik berwarna putih susu selalu menemaninya berjalan di belakang. Bahkan mereka bermain bersama di bendungan.

Leafie sedih, tapi ia mencoba melupakannya dan mencoba untuk kembali bertelur. Ia benar-benar ingin mengerami telur. Leafie sama sekali tidak tahu bahwa meskipun ia bisa bertelur dan mengeraminya, telur itu tidak akan pernah menetas. Berhari-hari ia mencoba bertelur, tapi hasilnya nihil. Dan hal yang semakin membuatnya sedih, Pengelana sudah tidak terlihat dalam rombongan bebek yang melintasi bukit untuk menuju bendungan. Bahkan bebek putih susu pasangannya-pun tidak ada. Leafie menebak pasti mereka memutuskan untuk pergi, karena bagaimanapun juga Pengelana adalah bebek liar yang lebih suka hidup di alam bebas. Tapi ia tidak menyangka bahwa Pengelana tidak mengucapkan salam perpisahan padanya.

Namun saat Leafie menemukan semak mawar di kaki bukit yang tepat sebagai tempat tinggal sementara, ia terkejut ,mendengar suara ‘kwek’ yang mirip dengan pengelana. Suara ‘kwek’ ketakutan yang membuat Leafie menyangka bahwa Pengelana diserang Musang. Tanpa pikir panjang Leafie mendekati sumber suara. Ia bertekad menyelamtkan Pengelana walau nyawa taruhannya. Tapi yang didapatnya di dalam semak mawar hanyala sebuah telur. Hanya telur! Leafie sangat senang. Ia memang tidak tahu siapa pemilik telur itu, tapi ia juga tidak bisa meninggalkannya. Telur itu akan mati jika tidak dipeluk dengan hangat. Jadi Leafie berpikir ia akan menjaga telur itu sampai pemiliknya kembali.

Aaaaaak >< sebenernya masi banyak yang bisa diceritakan, tapi takut jadi spoiler. Percayalah, baca spoiler itu nggak enak. Apalagi buku yang ceritanya oke banget kayak ini. Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya adalah fable kontemporer yang hit di Korea. Terjual lebih dari satu juta kopi, diadaptasi ke dalam film animasi yang menjadi Best Family Film 2011 di Sitges Festival, Spanyol.

Jujur saya belum pernah denger tentang buku ini sebelumnya. Juga belum pernah baca review-nya sama sekali. Saya tertarik baca buku ini hanya karena saya nemu di online shop kalo buku ini di diskon. Dan saya tertarik dengan cover nya yang lucu, gambar dan warna hijau yang pas banget. Apalagi dengan embel-embel ‘terjual lebih dari sejuta eksemplar dan diterjemahkan di lebih dari 10 negara’ yang tercetak di cover nya bikin saya jadi tambah penasaran. Buku ini saya beli udah berbulan-bulan yang lalu tapi hanya jadi timbunan sampe dua hari yang lalu *iya, saya udah selesai baca dua hari yang lalu tapi baru nulis review wkwk* saya baca karena pas banget sama RC 13 Days Reading Children & Young Adult Literature. Dan saya sukaaaaa banget sama buku ini. Rasanya baca buku ini tuh sama seperti saat saya baca Keluarga Cemara, nggak bikin saya ketawa dan nggak bikin nangis tapi rasanya langsung jleb aja gitu di hati. Agak merasa tersindir juga melihat hewan yang bisa mengerti tentang pengorbanan, cinta, dan kebebasan sejati yah meskipun ini fiktif juga sih. Yang bikin sedih banget itu pas adegan terakhir Leafie ketemu sama Musang. Aduh, gimana ya, ntar kalo diceritain jadinya spoiler. Pokoknya harus baca deh! Recommended banget banget banget. Bagus untuk dibaca siapapun, segala umur. Bagus juga untuk diceritakan sebagi dongeng sebelum tidur buat adek-adek kecil yang belum bisa baca. Banyak pelajaran yang bisa diambil. Saya jadi pengen banget nonton filmnya. Penasaran, filmnya bisa, nggak, jadi sebagus bukunya?

Tapi buku ini nggak lepas dari typo loh, meskipun nggak ngaruh juga sih. Di cover belakangnya, sendiri tertulis ‘sediri’, terus yang harusnya ‘jangankan’ jadi ‘jangan’ aja, sama ada satu lagi sih, kemarin udah saya catetin di kertas kecil tapi nggak tau sekarang kertasnya kemana.

Pokoknya wajib banget baca buku ini. Embel-embel ‘terjual lebih dari bla bla bla’ nya ternyata nggak overrated sama sekali. Menurut saya loh ya. Hehehe. Sama seperti buku Keluarga Cemara, saya berniat ‘mempromosikan’ buku ini untuk dibaca oleh anggota keluarga saya.

Rating:

5

Postingan ini dibuat dalam rangka meramaikan 13 Days Reading Children & Young Adult Literatures

banner-13-days-cl-ya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: