Angel of Morning Star Club

Published May 25, 2015 by tikikabum

final cover angel of morning star club-269x406

Angels of Morning Star Club

Penulis: Lim Se Hyuk

Penerjemah: Dimitri Dairi

Penerbit: Haru

Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Maret 2015

ISBN: 978-602-7742-45-1

Tebal: 370 halaman

 

Namaku Lim Hwi Chan. Seorang mantan narapidana yang sekarang menjadi penjaga toko yang menyedihkan. Umurku 27 tahun dan aku suka menonton film thriller berulang-ulang sampai 30 kali. Aku juga suka melampiaskan emosi dengan mengepel lantai yang kotor gara-gara keteledoran siswi yang makan mi instan dan kimchi sembarangan di tokoku. Memang, aku tidak bisa disebut panutan, tapi juga tidk bisa disebut pecundang hanya karena pernah dipenjara.

Aku memnag mantan narapidana, tapi aku muak selalu dicurigai. Aku hanya ingin melupakan semua kenangan itu. Tapi, sepertinya seluruh dunia sudah terlanjur mengecapku sebagai seorang “Mantan Narapidana” dan mereka menolakku.

Sampai aku menemukan perkumpulan aneh bernama “Morning Star” yang malah mencari mantan narapidana sebagai anggotanya.

Semuanya berawal dari seorang gadis cantik yang tinggal tepat satu lantai di bawah apartemen Hwi Chan dan Nuna-kakak perempuan-nya. Hwi Chan pernah menolongnya ketika gadis itu mabuk dan tertidur di depan pintu kamarnya sendiri. Saat itu Hwi Chan membopongnya masuk ke dalam setelah sebelumnya bertanya berapa kode kamar gadis itu. Jadi, ketika Hwi Chan merasa ada yang tidak beres terjadi di kamar gadis itu, ditambah lagi ia mendengar gadis itu berteriak ketakutan, Hwi Chan tidak berpikir dua kali untuk masuk ke dalam dengan memasukkan kode kamar yang diingatnya. Untungnya –atau mungkin lebih tepat disebut: sialnya?-, kode kamar gadis itu belum berubah. Di dalam, Hwi Chan memergoki seorang perampok bertopeng yang sedang memegang pisau. Dengan berani, Hwi Chan mencoba menyerang perampok yang mencoba melarikan diri dari jendela. Saat Hwi Chan mencoba menariknya, lengan baju perampok itu sobek, memperlihatkan sebuah tato ekor naga berwarna hijau. Awalnya Hwi Chan ingin mengejar perampok itu, tapi saat itu yang lebih penting adalah keselamatan gadis yang ternyata sedang tergeletak tak sadarkan diri.

Begitulah awal dari hidup Hwi Chan dipenjara. Hwi Chan yang berniat baik malah dituduh sebagai perampok oleh polisi. Dan yang paling membuat Hwi Chan marah adalah gadis cantik itu juga bersaksi pada polisi bahwa Hwi Chan-lah orang yang mencoba menyerangnya!

Setelah keluar dari penjara, status Hwi Chan adalah “Mantan Narapidana”. Tidak ada yang peduli dan percaya bahwa sebenarnya Hwi Chan tidak bersalah. Dan tidak ada perusahaan yang mau menampung pekerja berstatus “Mantan Narapidana” seperti Hwi Chan. Jadi, satu-satunya pekerjaan yang bisa dilakukan Hwi Chan adalah bekerja di toko milik Nunanya. Nuna Hwi Chan sangat menyayanginya. Ia juga merasa semua perbuatan Hwi Chan adalah kesalahannya karena dia terlalu sibuk hingga tidak memperhatikan adiknya.

Tapi hidup Hwi Chan menjadi lebih berwarna saat ia melihat iklan sebuah klub di koran. Klub yang mencari anggota dengan syarat: Mantan narapidana. Hwi Chan awalnya tidak yakin. Klub macam apa yang mencari anggota khusus mantan narapidana? Tapi toh tidak ada salahnya mencoba. Kalau memang klub itu berniat jelek, mereka tidak akan memasang iklan di koran, kan?

Ternyata klub itu adalah klub yang melakukan banyak kegiatan sosial. Kebanyakan kegiatan sosialnya dilakukan di berbagai Panti Jompo dan Panti Asuhan. Hwi Chan sangat senang bergabung dengan klub itu. Karena ia bisa merasakan bahwa ia dibutuhkan. Kakek dan Nenek di Panti Jompo dan anak-anak di Panti Asuhan sangat menyukainya. Apalagi ketika lewat kegiatan itu, Hwi Chan bertemu dengan seorang gadis yang menarik perhatiannya!

Seiring berjalannya waktu, Klub Morning Star menjadi semakin terkenal dan anggotanya semakin bertambah. Dan Hwi Chan diangkat menjadi ketua klub! Klub itu mulai diterima masyarakat saat seorang CEO perusahaan besar membuat sebuah yayasan yang menaungi rehabilitasi mantan narapidana melalui kegiatan sosial, dan beliau ingin Hwi Chan dan anggota klubnya mengelola yayasan itu.

Banyak hal harus dipikirkan Hwi Chan sejak menjadi ketua klub. Selain membersihkan nama klubnya dari tuduhan pencurian uang sumbangan, ia juga bertemu dengan Hyung Geun -satu-satunya anggota klub yang lebih muda darinya-, yang sangat ceria dan ternyata memiliki tato yang sama dengan perampok yang membuatnya mendekam di penjara.

*

Pertama, saya mau bilang terima kasih sama Mbak Astrid atas bukunya. Hehehe, iya, saya dapet buku ini dari GA-nya mbak Astrid bulan maret kemarin. Dan selama ini masih jadi timbunan, huhuhu. Awalnya saya tertarik sama buku ini karena sinopsisnya. Sejak pertama kali Haru share sinopsis buku ini, saya langsung berniat ‘pokoknya harus punya buku ini’. Dan Alhamdulillah ternyata dapetnya malah dari giveaway.

Sebenarnya, buku ini bagus. Tapi karena ekspektasi saya terlalu tinggi, jadi saya agak sedikit kecewa. Saya kira Hwi Chan dan anggota klub-nya bakalan berpetualang atau gimanaaa gitu. Atau jadi semacam klub yang membantu polisi. Tapi ternyata mereka malah pekerja sosial, hahaha

Saat baca buku ini, saya merasakan ketidakadilan yang dirasakan Hwi Chan. Hwi Chan nggak salah, tapi harus masuk penjara. Bahkan saat sudah keluar-pun dia diperlakukan seperti orang yang setiap saat bisa mencelakakan siapa saja. Tapi kayaknya saya juga bisa mengerti perasaan orang lain. I mean, kalo missal ada tetangga saya yang saya ketahui sebagai mantan narapidana, saya juga pasti ada rasa takut dan nggak aman. Kecuali kalo memang saya tau kalo sebenernya mereka nggak salah, tapi hanya jadi korban salah tangkap. Tapi kalo orang itu keluarga saya, tentu saya bakal merasa sedih banget dan merasa nggak adil. Hanya karena seseorang itu adalah mantan narapidana, lantas diperlakukan seperti penyakit. Tapi kalo missal di dunia nyata ada klub semacam Morning Star ini, kayaknya pemikiran orang bakal sedikit berubah deh. Karena bergabung di klub ini dan melakukan pekerjaan sosial bisa kita lihat sebagai ‘penebusan dosa’ mereka.

Sedikit OOT nih ya, saya suka banget sama sistem sekolah di Korea yang mewajibkan murid-muridnya mengerjakan sekian jam untuk mengikuti kerja sosial. Keren aja gitu, sekalian mendidik murid untuk lebih mengenal dunia luar dan kehidupan sosial. Kalo di Indonesia, sih, setau saya di Lab School Jakarta juga ada juga yang semacam itu. Soalnya sepupu saya pernah ribut banget bilang mau ngepel masjid deket rumah. Tapi nggak tau juga sih itu program sekolah atau hanya tugas pelajaran Agama Islam untuk bantu-bantu di rumah ibadah. Apapun alasannya sih menurut saya program itu bagus. Coba deh, semua sekolah ada program kayak gitu.

Oke, sekarang balik lagi ke topik semula. Ada satu kesalahan penulisan tulisan yang saya temukan di buku ini. Yaitu pada halaman 158, di akhir kalimat Hwi Chan tidak ditutup dengan tanda ‘ “ ‘. Itu aja sih, nggak tahu apa memang hanya itu kesalahannya atau sayanya aja yang nggak teliti hehehe

Terus juga ada satu hal yang membingungkan saya. Di halaman 355, ditulis bahwa Presiden Direktur Perusahaan Thae Seong adalah Direktur Lee, padahal sebelumnya, di halaman 245, saat pertama kali mengenalkan diri pada Hwi Chan, orang itu bernama Yang Man Shik. Jadi kenapa namanya bisa berubah?

Dan yang terakhir, saya kecewa karena nggak ada kejelasan cerita tentang Hyeong Geun. Hiks hiks hiks

Rating dari saya:

3_5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: